Megawati Tiba di Sekolah Partai PDI-P, Jadi Keynote Speaker Peringatan 70 Tahun KAA
Laporan Dumai – Megawati Tiba di Sekolah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menghadiri agenda penting di Sekolah Partai PDI-P dan didaulat menjadi keynote speaker dalam peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Kehadirannya menjadi sorotan karena momentum tersebut dinilai memiliki makna historis sekaligus politis dalam konteks hubungan Indonesia dengan negara-negara Asia dan Afrika.
Acara yang digelar di lingkungan Sekolah Partai tersebut dihadiri kader, akademisi, serta tokoh internal partai. Suasana berlangsung khidmat dengan penekanan pada nilai-nilai solidaritas global yang pernah menjadi semangat utama KAA tahun 1955.
Megawati Soroti Warisan Sejarah KAA
Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa Konferensi Asia Afrika bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga fondasi penting bagi perjuangan negara-negara berkembang dalam memperjuangkan kedaulatan dan kesetaraan di panggung dunia.
Ia mengingatkan kembali peran Indonesia sebagai tuan rumah KAA pertama di Bandung, yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soekarno. Semangat anti-kolonialisme dan solidaritas negara-negara Selatan menjadi inti pesan yang terus relevan hingga saat ini.
Baca Juga: Komdigi Bentuk Tim Khusus Usut Dugaan Kebocoran IGRS
Sekolah Partai Jadi Ruang Refleksi Ideologi
Kegiatan di Sekolah Partai PDI-P tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi juga ruang refleksi ideologi bagi kader partai.
Para peserta yang hadir mendapatkan penekanan tentang pentingnya menjaga konsistensi nilai-nilai perjuangan bangsa dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Makna Politik di Balik Peringatan KAA
Peringatan 70 tahun KAA juga memiliki dimensi politik yang cukup kuat. Sebagai tokoh senior dan figur sentral dalam PDI-P, Megawati kerap dipandang sebagai penjaga warisan ideologis Bung Karno, terutama dalam hal politik internasional dan semangat solidaritas negara berkembang.
Resonansi Nilai KAA di Era Modern
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai KAA kembali relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, ketimpangan ekonomi, serta perubahan tatanan dunia.





