, ,

Berakhirnya Perjanjian Nuklir New START AS Rusia

oleh -329 Dilihat
Berakhirnya Perjanjian Nuklir

Berakhirnya Perjanjian Nuklir New START: Dampaknya bagi Hubungan AS-Rusia dan Keamanan Global

Laporan Dumai – Berakhirnya Perjanjian Nuklir Perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, yang dikenal dengan nama New START (Strategic Arms Reduction Treaty), resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Setelah lebih dari satu dekade menjadi pilar utama dalam kontrol senjata nuklir global, perjanjian ini berakhir tanpa adanya kesepakatan untuk memperpanjang atau menggantinya dengan perjanjian baru, yang menimbulkan kecemasan mengenai potensi perlombaan senjata nuklir baru antara dua kekuatan dunia tersebut.

Ketegangan Global dan Ketidakpastian Masa Depan

Berakhirnya perjanjian New START menambah ketidakpastian dalam hubungan internasional, terutama terkait dengan pengendalian senjata nuklir. Meskipun kedua negara sempat melakukan beberapa pembicaraan mengenai kemungkinan perpanjangan perjanjian, ketegangan yang meningkat akibat konflik di Ukraina dan ketidaksetujuan mengenai kebijakan keamanan global menyebabkan kegagalan dalam mencapai kesepakatan.

Presiden AS Joe Biden, dalam pernyataannya setelah berakhirnya New START, menegaskan bahwa AS akan terus memantau dan memastikan keamanan nasionalnya, tetapi ia juga menekankan bahwa keberlanjutan perjanjian ini sangat penting untuk menjaga stabilitas global. “Meskipun New START telah berakhir, kami berkomitmen untuk menjaga komunikasi terbuka dengan Rusia dan terus berusaha mengurangi risiko perang nuklir melalui diplomasi dan kebijakan kontrol senjata yang bijaksana,” ujar Biden.

Di sisi lain, pemerintah Rusia, yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin, mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak ada lagi dasar yang kuat untuk melanjutkan perjanjian tersebut. Rusia menekankan bahwa kebijakan NATO dan pengembangan sistem senjata nuklir AS di kawasan Eropa telah merusak kepercayaan terhadap kontrol senjata yang sudah ada.Rusia Kerahkan Rudal Nuklir Oreshnik ke Belarus, Tingkatkan Ketegangan!

Baca Juga: Meriahnya Perayaan Imlek di PIK Hadirkan Hiburan di Sejumlah Titik

Berakhirnya Perjanjian Nuklir Dampak Terhadap Keamanan Global

 Hal ini membuka kemungkinan bagi kedua belah pihak untuk meningkatkan jumlah senjata nuklir mereka, yang dapat memicu perlombaan senjata nuklir global yang berisiko memperburuk ketegangan antar negara besar.

Pakar keamanan internasional memperingatkan bahwa berakhirnya New START bisa memengaruhi negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir, seperti China, yang selama ini tidak terikat oleh perjanjian kontrol senjata strategis. Jika AS dan Rusia tidak lagi mengurangi arsenal nuklir mereka, negara-negara lain yang memiliki kemampuan nuklir bisa saja mengikuti jejak mereka, yang berpotensi menambah ancaman terhadap perdamaian dunia.

“Tanpa kontrol senjata yang terorganisir, kita berisiko memasuki era baru perlombaan senjata nuklir. Ini bukan hanya ancaman bagi AS dan Rusia, tetapi bagi seluruh dunia,” kata Dr. Lara Wendt, seorang ahli kebijakan kontrol senjata dari Institut Perdamaian Internasional.

Tantangan bagi Diplomasi dan Pengendalian Senjata

Berakhirnya perjanjian ini juga menunjukkan tantangan besar bagi diplomasi internasional dalam bidang pengendalian senjata nuklir. Beberapa analis menilai bahwa kegagalan untuk memperpanjang atau mengganti New START mencerminkan kesulitan dalam mencapai kesepakatan mengenai masalah pengurangan senjata, terutama dalam kondisi geopolitik yang semakin terfragmentasi.

Sementara itu, negara-negara seperti Prancis, Inggris, dan China telah mengamati perkembangan ini dengan cermat. Masing-masing negara ini juga memiliki senjata nuklir dan khawatir tentang potensi eskalasi senjata nuklir yang tak terkontrol. Meski begitu, mereka juga memahami bahwa dialog tentang kontrol senjata global hanya akan berhasil jika AS dan Rusia dapat menemukan titik temu dalam masalah ini.

Mencari Alternatif untuk Kontrol Senjata Nuklir

Beberapa negara dan organisasi internasional mendorong untuk dilakukannya pembicaraan baru mengenai kontrol senjata nuklir, dengan fokus pada pengurangan yang lebih luas yang melibatkan lebih banyak negara. Selain itu, muncul juga usulan untuk mengembangkan sistem yang lebih transparan dan berbasis teknologi dalam mengawasi senjata nuklir, yang akan membantu mengurangi potensi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan antar negara.

Masa Depan Kontrol Senjata Nuklir

Meskipun berakhirnya New START membuka babak baru dalam pengendalian senjata nuklir, banyak pihak berharap bahwa diplomasi internasional akan terus berkembang untuk menciptakan mekanisme baru yang dapat memperkecil risiko konfrontasi nuklir. Masyarakat internasional, baik melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun forum-forum bilateral lainnya, kemungkinan akan semakin mendesak kedua negara besar tersebut untuk kembali duduk bersama demi memperbaharui perjanjian pengurangan senjata nuklir.

Sebagai negara dengan jumlah senjata nuklir terbesar, baik AS maupun Rusia memiliki tanggung jawab besar terhadap stabilitas global. Masyarakat internasional berharap agar kedua negara ini dapat mengatasi perbedaan mereka dan kembali menuju jalur diplomasi, dengan tujuan untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan bebas dari ancaman senjata nuklir.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.