Ribuan Ojol Sukabumi Ketika Helm Jadi Simbol Perlawanan
Laporan Dumai – Ribuan Ojol Sukabumi turun ke jalan mengenakan jaket hijau khas mereka, bukan sekadar seragam—tetapi simbol solidaritas intens. Dengan meneriakkan yel-yel seperti “Pembunuh!” dan “Copot Kapolri!”, mereka mengepung Mapolres Sukabumi Kota, menuntut penghentian represifitas aparat dan pertanggungjawaban atas kematian rekan mereka, Affan Kurniawan, dalam insiden brutal di Jakarta.
Tuntutan Tiga Pilar: Mundur-Kusut-Proses”
Unsur paling menonjol dalam aksi ini adalah tuntutan struktural mereka:
Kapolri mundur, karena dianggap tidak memiliki “rekam jejak positif” bagi komunitas ojol.
Usut tuntas pelaku yang menyebabkan kematian Affan—keadilan dan transparansi jadi harga mati.
Polres Sukabumi diminta menyampaikan secara resmi tuntutan mereka kepada Mabes Polri.
Koordinator aksi, Asep Saepul Ramdani, bahkan mengancam aksi lanjutan yang jauh lebih besar jika tuntutan mereka diabaikan—tidak hanya di Sukabumi, tetapi juga di Cianjur, Bandung, Bogor, dan wilayah lainnya.

Baca Juga:Anggaran Kementerian Dipotong, Dana Transfer Daerah Berkurang
Kondusif Tapi Tegas: Politisi dan Polisi di Tengah Gelombang”
Meskipun massa memenuhi Jalan Perintis Kemerdekaan dan menutup arus lalu lintas—ditambah suasana sempat memanas—aksi tetap berjalan kondusif.
Tidak hanya itu, massa juga menuntut kemanusian. Aliansi ojol menuntut agar insiden tragis Affan menjadi momentum bagi Polri untuk introspeksi, tak lagi mengulang tindakan represif tapi menjaga keselamatan warga sipil.
Tiga Ragam Sudut Pandang
| Perspektif | Wawasan Unggulan |
|---|---|
| Semangat Komunitas | Aksi ini menunjukkan solidaritas “satu aspal,” meski korban berada di Jakarta. |
| Tekanan Politik | Penegasan bahwa tuntutan mereka bukan emosional, tetapi berakar pada keinginan keadilan dan akuntabilitas. |
| Peran Aparat Lokal | Polres Sukabumi sebagai mediator efektif dalam menyampaikan pesan, bukan sekadar penghalang aksi. |
Ribuan Ojol Sukabumi Satu Aspal” dan “Polisi Pembunuh”
Hashtag seperti #PolisiPembunuh sempat menjadi trending topik di media sosial, mencerminkan amarah kolektif terhadap aparat. Bagi komunitas ojol, Affan bukan hanya korban, tapi simbol krisis hubungan antara warga sipil dan pasukan keamanan.
Penutup Reflektif: Dari Jalanan ke Rencana Aksi
Aksi di Sukabumi membawa dua pesan besar: duka mendalam dan penuntutan atas keselamatan yang hakiki dalam demokrasi modern. Mobilisasi afro warna hijau itu bukan sekadar protes, melainkan panggilan kolektif: agar negara tidak selalu represif, melainkan pelindung sejati.

![kyiv-diserang-drone-rusia-1757224075853_169[1]](https://www.kangarron.com/wp-content/uploads/2025/09/kyiv-diserang-drone-rusia-1757224075853_1691-148x111.jpeg)
![pimpinan-dprd-dki-menemui-massa-yang-menggelar-demonstrasi-di-depan-gedung-dprd-dki-beliadetikcom-1756970942244_169[1] Aliansi Rakyat Miskin](https://www.kangarron.com/wp-content/uploads/2025/09/pimpinan-dprd-dki-menemui-massa-yang-menggelar-demonstrasi-di-depan-gedung-dprd-dki-beliadetikcom-1756970942244_1691-148x111.png)

![WAmenaker-Noel-KPK[1]](https://www.kangarron.com/wp-content/uploads/2025/08/WAmenaker-Noel-KPK1-148x111.jpg)
![cb6e1670-1978-449f-9ece-c445c0cefad4_jpeg[1] Kronologi Kematian Nazwa](https://www.kangarron.com/wp-content/uploads/2025/08/cb6e1670-1978-449f-9ece-c445c0cefad4_jpeg1-148x111.webp)
![41613-iphone-16-pro[1] Modernisasi Ketua PGRI](https://www.kangarron.com/wp-content/uploads/2025/08/41613-iphone-16-pro1-148x111.jpg)